Mappalili di Cilellang, Bupati Barru Tekankan Doa, Kebersamaan dan Ketepatan Pola Tanam

  • Bagikan
banner 468x60

BARRU, Menit7. Com — Pemerintah Desa Cilellang, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru, menggelar tradisi adat Mappalili sebagai tanda dimulainya Musim Tanam (MT) 2026/2027 dan musim tanam 2027.

Tradisi turun sawah tersebut digelar di areal persawahan Dusun Cilellang Selatan, Desa Cilellang, Rabu (7/10/2026), dan dihadiri langsung Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari, S.H., M.Si.

Example 300x600

Mappalili merupakan ritual adat masyarakat Bugis yang dilakukan menjelang turun sawah. Tradisi ini diisi dengan doa bersama sebagai bentuk ikhtiar dan permohonan kepada Allah SWT agar hujan segera turun, tanaman terhindar dari hama dan penyakit, serta hasil pertanian melimpah.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Barru, Camat Mallusetasi, Kapolsek Mallusetasi, Danramil Mallusetasi, Kepala Desa Cilellang Perawati, para penyuluh pertanian, ketua dan anggota kelompok tani, kepala dusun, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta pimpinan OPD lingkup Pemerintah Kabupaten Barru.

Kepala Desa Cilellang Perawati menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kehadiran Bupati Barru dalam tradisi Mappalili tersebut.

“Selamat datang kepada Ibu Bupati beserta rombongan di Desa Cilellang. Tahun lalu Ibu Bupati juga hadir di acara Mappalili di Dusun Cilellang Utara, tahun ini di Cilellang Selatan,” ujarnya.

Menurut Perawati, lokasi pelaksanaan Mappalili tahun ini merupakan tempat yang secara turun-temurun dianggap sakral oleh masyarakat dan selalu menjadi lokasi dimulainya ritual sebelum masyarakat turun ke sawah.

“Kita melaksanakan Mappalili atau turun sawah dengan harapan semoga nantinya bisa turun hujan, kita bisa bertani dan mendapatkan hasil yang melimpah dan dibebaskan dari hama,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Perawati juga menyampaikan aspirasi petani terkait kondisi infrastruktur jalan tani yang masih menjadi kendala, khususnya dalam proses pengangkutan hasil panen.
“Harapan kami mewakili para kelompok tani, mudah-mudahan jalan tani yang kita lewati tadi bisa diperhatikan.

Alhamdulillah ada kabar baik katanya sudah bisa dikerjakan tahun ini,” ungkapnya.

Ia mengatakan keterbatasan Dana Desa membuat pemerintah desa membutuhkan dukungan pemerintah daerah untuk pembangunan infrastruktur yang menunjang sektor pertanian.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Barru Ahmad mengapresiasi Desa Cilellang yang dinilai konsisten menjaga tradisi pertanian dan responsif terhadap persiapan musim tanam.

“Desa Cilellang ini sangat responsif terhadap yang namanya turun sawah. Turun sawah itu adalah bagian dari kebahagiaan dan kesiapan untuk menyongsong pola tanam,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berdasarkan prakiraan BMKG, wilayah pesisir barat Sulawesi Selatan, termasuk Kabupaten Barru, diprediksi baru memasuki periode hujan pada minggu ketiga November 2026.
Karena itu, ia meminta seluruh kelompok tani menyesuaikan pola tanam dengan kondisi iklim.

“Prinsipnya wajib seluruh kelompok tani di Kabupaten Barru mengikuti iklim, jangan melawan iklim,” tegasnya.
Menurutnya, ada tiga langkah penting yang perlu dilakukan petani, yakni mempercepat pola tanam, menyesuaikan pola tanam dengan kondisi iklim, serta menggunakan varietas tanaman berumur pendek.

Ia juga menyebut capaian sektor pertanian Barru pada 2025 cukup membanggakan. Realisasi tanam disebut mencapai sekitar 30.000 hektare dalam setahun, sementara harga gabah pada Musim Tanam II (MT2) berada di kisaran Rp7.000 hingga Rp8.000 per kilogram.

“Ini yang membuat Nilai Tukar Petani (NTP) kita naik. Petani bahagia karena produksi bagus dan harga tinggi,” katanya.

Mappalili Bukan Sekadar Seremonial
Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari menegaskan, Mappalili harus dimaknai lebih dari sekadar kegiatan seremonial.
“Mappalili ini bukan sekadar hanya turun dengan para pejabat mencangkul dan kemudian selesai. Tetapi Mappalili ini adalah doa. Kita memulai pekerjaan dengan Bismillah, kita memanjatkan doa semoga apa yang kita lakukan itu insya Allah akan memberikan manfaat besar untuk masyarakat, khususnya para petani,” ujar Andi Ina.

Bupati perempuan pertama di Kabupaten Barru itu menekankan pentingnya menjaga Mappalili sebagai warisan budaya leluhur.

“Ini harus terus kita jaga. Jangan sampai Mappalili ini hilang. Inilah kewajiban kita semua untuk terus menjaga budaya dari orang tua kita yang mengajarkan bahwa ada Allah di atas yang mengatur semuanya,” katanya.

Andi Ina juga mengajak para kelompok tani memperkuat kebersamaan dalam menentukan pola tanam maupun pemilihan bibit.
“Kalau kita kuat bersama, apapun masalah pertanian kita akan teratasi. Jangan kita jalan sendiri, jangan hanya mendengar orang di sana pakai bibit beda terus kita ikut. Belum tentu hasilnya sama karena kondisi lahan berbeda. Ikuti arahan penyuluh dan pemerintah,” tegasnya.

Ia juga meminta para penyuluh pertanian menjalankan perannya secara maksimal sebagai pendamping petani di lapangan.
“Tugas penyuluh itu adalah pendampingnya petani. Harus tahu apa masalahnya petani dan harus tersampaikan kepada pimpinan agar ada solusinya. Jangan biarkan petani bermasalah dilihat saja,” ujarnya.

Berharap Hujan Turun Lebih Cepat
Menyikapi kondisi kemarau panjang yang masih berlangsung, Andi Ina mengajak masyarakat dan petani untuk memperbanyak doa agar hujan dapat turun lebih cepat dari prakiraan.

“Kita manusia bisa berencana, BMKG bisa membaca dengan alat, tetapi ada kuasa yang lebih besar yaitu Allah SWT. Saya yakin kalau kita perbanyak berdoa, insya Allah hujan bisa lebih cepat dari minggu ketiga November,” ucapnya.

Pada kesempatan tersebut, Bupati juga menyampaikan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung petani Desa Cilellang melalui pembangunan jalan tani, bantuan benih, alat dan mesin pertanian (alsintan), serta program Brigade Pangan.

“Insya Allah ada jalan tani nantinya yang akan dikeluarkan melalui Dinas Pertanian. Tapi saya berpesan, jalan tani ini tidak boleh memotong persawahan, tidak boleh mengurangi jumlah luasan lahan sawah yang ada,” katanya.

Terkait program cetak sawah baru, Andi Ina meminta agar pelaksanaannya benar-benar memperhatikan kelayakan lahan sehingga tidak menimbulkan pemborosan anggaran.

“Saya tekankan kepada cetak sawah itu jangan hanya melihat program itu kita dapat dan kemudian langsung diambil. Harus tepat sasaran. Jangan sampai lahan yang dijadikan cetak sawah ternyata bukan lahan pertanian dan tidak bisa ditanam. Akhirnya anggaran terbuang,” tegasnya.

Menurutnya, setiap anggaran pemerintah harus benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Satu rupiah anggaran itu sangat berarti untuk masyarakat. Lebih bagus tolak kalau memang tidak bisa dimanfaatkan,” pungkasnya. (*)

banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *