Desa Nisombalia Berinovasi, ‘Menyulap’ Empang Non Produktif Menjadi Ladang Garam Berkualitas

Daerah357 Dilihat

Maros, Menit7.com — Pemerintah Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, dibawa Kepemimpinan Sulkarnain sebagai Kepala Desa membuat lagi terobosan baru. Sebelumnya, telah membangun Pamsimas untuk kebutuhan air bersih warga sekitarnya kali ini empang yang kurang produktif ‘disulap’ menjadi ladang penghasil garam.

Terobosan baru yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Nisombalia dengan menyulap kawasan empang yang kurang produktif alias sudah tidak lagi menopang penghasilan petani tambak dan menjadikan ladang garam merupakan langkah maju yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Maros melalui Dinas Perikanan. Tentunya dengan mempertimbangkan kualitas produksi garam yang dihasilkan dan pasar yang sudah siap menerima.

Sebagai langkah awal, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Maros, Muhajir bersama tim dari BPKP, mahasiswa Unhas dari Fakultas MIPA Kimia dan tim pendamping Andi Malik meninjau langsung lokasi yang dijadikan ladang garam di dusun Tala-tala/Mambue, Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Selasa, 1/8/2023. Ladang garam tersebut akan menjadi percontohan produksi garam berkualitas.

Muhajir mengatakan, bahwa produksi garam yang dihasilkan tidak mengecewakan. Kualitas bagus. Sama dengan kualitas garam yang dihasilkan daerah lain.

“Saat ini kami terus melakukan pembinaan dan edukasi kepada petani garam agar tetap mempertahankan kualitas garamnya yang ada sekarang,” ujar Muhajir.

Begitupun soal pemasaran, menurut Muhajir, , produksi garam Nisombalia sudah siap dipasarkan dan sudah ada pasar yang siap menerima. Namun, yang perlu dipikirkan adalah gudang penampungan.

“Kedepannya, Pemdes Nisombalia akan menyiapkan sarana penampungan,” imbuhnya.

Sementara Kepala Desa Nisombalia, Sulkarnain, berterima kasih kepada tim yang telah memilih Nisombalia sebagai salah satu desa di Maros yang akan menjadi percontohan.

“Dengan adanya ladang garam di desa Nisombalia tentunya dapat menciptakan lapangan kerja baru,” ucapnya.

Sulkarnain berharap agar warganya bisa beralih menjadi petani garam yang sebelumnya sebagai petani tambak.

Dari proses kejadian air asin (laut) menjadi garam disaksikan langsung dari tim BPKP dan tim pendamping serta tim dari Mahasiswa Unhas dan warga masyarakat.

” Hasilnya sangat memuaskan. Dalam tiga hari sudah bisa menghasilkan garam,”ungkapnya. (anto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *