Kue Tradisional Dange, si Hitam Manis dari Pangkep yang Bikin Nagih

Kuliner162 Dilihat

Pangkep, Menit7.com – Jika anda berkunjung ke Sulawesi Selatan, tepatnya di Kabupaten Pangkep ada sebuah kudapan tradisional yang memiliki cita rasa khas tersendiri. Salah satu yang patut dicoba adalah Dange, sebuah kue sederhana namun menggoda yang telah menjadi favorit di kalangan masyarakat Sulsel.

Dange, yang berasal dari bahan dasar tepung beras ketan hitam atau putih, gula merah, dan parutan kelapa, memukau dengan kelezatannya yang mengingatkan kita pada cita rasa khas daerah ini. Proses pembuatannya pun tak ribet, memberikan sentuhan sederhana yang membuatnya semakin istimewa.

Salah satu ciri khas dange adalah cetakan yang digunakan, yang terbuat dari tanah liat. Meskipun cetakan ini umumnya serupa dengan pukis, namun inilah yang memberikan keunikan tersendiri pada kudapan ini. Setiap cetakan memiliki keunikan tersendiri memberikan cita rasa yang berbeda di tangan yang berbeda, menciptakan pengalaman menyantap yang unik.

Awalnya, dange hanya terdiri dari sedikit bahan, mengandalkan kelezatan gula merah sebagai satu-satunya rasa dominan. Namun, seiring berjalannya waktu, dange mengikuti perkembangan selera masyarakat modern. Inovasi pun menghampirinya, memberikan beragam pilihan rasa seperti cokelat, susu, dan bahkan keju.

Perubahan ini membuktikan bahwa dange tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Inovasi rasa telah membuatnya mampu bertahan dan bahkan semakin diperhitungkan di dunia kuliner.

Dange menjadi simbol kekayaan kuliner Sulsel yang tidak hanya berpegang pada keaslian tradisional, tetapi juga siap bersaing dengan selera modern. Kudapan sederhana ini bukan hanya tentang kenangan masa lalu, tetapi juga tentang evolusi rasa yang terus berkembang, menjadikannya sebuah cerita lezat yang terus berlanjut di setiap gigitannya.

Setiap gigitan makanan memiliki kisah tersendiri, dan dalam keberagaman kuliner Sulawesi Selatan, kudapan yang bernama dange menyimpan sebuah sejarah yang unik. Sejarahnya melibatkan masa lalu yang penuh peristiwa, memunculkan nuansa perjuangan.

Dange, kudapan yang kini menjadi kegemaran banyak orang, memiliki akar sejarah yang kuat. Dange dipandang sebagai makanan favorit para pemuda yang terlibat dalam gerakan pemberontakan Darul Islam Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Sulsel. Kudapan ini tak hanya sekadar santapan lezat, melainkan juga menjadi teman setia bagi para pemberontak dalam perjalanan mereka.

Saat itu, dange menjadi saksi bisu perjuangan DI/TII yang terpaksa bersembunyi di tengah hutan belantara. Meskipun kudapan ini terbuat dari bahan sederhana seperti tepung beras ketan hitam atau putih, gula merah, dan parutan kelapa, namun keberadaannya membawa makna yang mendalam. Dange bukan hanya makanan, tetapi juga menjadi simbol semangat dan kebersamaan di antara para pemberontak.

Seiring berjalannya waktu, dange telah melewati perubahan signifikan. Dari menjadi sumber kekuatan para pemberontak DI/TII, kini dange menjadi bagian dari warisan kuliner Sulsel yang dihargai oleh banyak orang. Meski mengalami transformasi dalam citarasa dan variasi rasa, sejarahnya yang melibatkan masa pemberontakan memberikan warna tersendiri pada setiap kudapan dange.

Di tengah gemuruh perkembangan zaman dan pesatnya kemajuan jajanan modern, Kedai Dange diyakini berdiri sejak tahun 1970-an. Kedai-kedai ini bukan sekadar tempat membeli kudapan, tetapi juga simbol keteguhan dan keabadian dalam menghadapi gempuran zaman.

Salah satunya, Muallimah (35) ia sudah berjualan sejak 2006 dikedai miliknya, Desa Benteng, Kecamatan Segeri, Kabupaten Pangkep, Sulawesi selatan.

“mulai 2006 saya jual kue Dange. Dulunya orang tua saya yang menjual, sekarang saya yang lanjutkan usahanya,” ujar Muallimah.

Proses pembuatakan kue Dange sangatlah sederhana. Muallimah menyebut, bahan-bahan yang digunakan untuk membuat Dange diantaranya, gula merah, beras ketan hitam, dan kelapa yang sudah diparut. Untuk proses pembuatan ia menjelaskan, cetakannya terlebih dahulu dibakar sekitar 10 menit diatas bara api. Sambil menunggu cetakannya panas, bahan yang terdiri dari gula merah, beras ketan hitam, dan kelapa disatukan pada wadah untuk dijadikan adonan.

“semua bahan dicampur semua dulu. jika cetakan sudah panas baru diisi adonan, terus di simpan diatas daun pisang,” tuturnya sambil memperlihatkan proses pembuatannya.

Di era gempuran modernisasi, para penjual Dange ini memodifikasi dengan tiga varian rasa, diantaranya rasa coklat, keju, dan original yang dibandrol dengan harga Rp.20.000-Rp.25.000 perkotaknya, yang diamana dalam satu kotak teridiri 5-8 Dange.

Muallimah mengatakan, varian rasa baru hadir karna munculnya rasa bosan para penjual kue Dange yang hanya menjual rasa original saja, paru penjual pun mencoba inovasi baru dengan tiga varian rasa.

“sudah bosan mi orang menjual dengan rasa-rasa itu ji saja. Jadi kami para penjual mencoba memodifikasi rasanya jadi coklat, keju, dan original. Ya alhamdulillah, banyak ji juga orang singgah untuk membeli” ungkapnya.

Meskipun telah terpengaruhi modernisasi, kue Dange masih bisa mempertahankan cita rasa khasnya sebagai kue tradisonal Sulawesi selatan, dan cita rasa tersebut masih belum berubah dari tahun 70-an sampai sekarang, yang masih disukai oleh para lidah penggemar kue Dange ini.

Husni Mubarak (23) salah satu warga lokal yang sangat menyukai hidangan kue Dange ini, hampir setiap pekannya ia tidak pernah terlewatkan untuk singgah memebeli dan menyantap kudapan tradisional ini.

“ saya sangat suka dengan kue Dange ini, karna memiliki berbagai varian rasa, yang paling saya sukai itu rasa coklat yang bercampur dengan gula merah itu sangat nikmat,” tuturnya.

Dengan adanya tiga varian rasa, kue Dange masih memiliki cita rasa khas tersendiri buat para penikmatnya.

“ kue Dange ini rasanya sangat unik, rasanya tidak berubah walaupun adanya varian rasa keju dan coklat, itu tidak merubaha ciri khas rasanya, rasa gula merahnya masih terasa kuat di lidah,”jelasnya.

Jadi, kue Dange ini masih bisa mempertahankan cita rasa khas tersendirinya sebagai kudapan tradisional lokal yang ada di daerah Pangkep, Sulawesi selatan. Meskipun telah tercampur oleh modernisasi baik itu dalam bentuk varian rasa.

“iya layak dipertahankan, karena kue Dange ini sudah menjadi ikonik daerah Pangkep, dan saya rasa ini merupakan satu-satunya kue tradisional lokal yang masih bertahan sampe sekarang,” pungkasnya Husni Mubarak.

Penulis : Zulfahmi / Mahasiswa Jurnalistik UIN Alauddin Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *