banner 728x250

Kementerian PPPA Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Perlindungan Inklusif Anak dengan Down Syndrome

  • Bagikan
banner 468x60

Jakarta, Menit7. Com — Berdasarkan Survey Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR), tercatat peningkatan signifikan prevalensi anak usia 13-17 tahun dengan disabilitas termasuk down syndrome yang mengalami kekerasan sepanjang hidupnya sebesar 83,85% pada 2024, dibanding pada 2021 sebesar 49,40%. Hal ini disampaikan oleh Menteri PPPA Arifah Fauzi dalam pembukaan webinar nasional bertajuk “Menjadi Sahabat Anak dengan Down Syndrome: Kenali, Pahami, dan Lindungi” pada Rabu, 8 April 2026.

Webinar ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Down Syndrome Sedunia 2026 oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA), Yayasan NLR Indonesia dan Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (POTADS).

Example 300x600

Menteri PPPA Arifah Fauzi menekankan bahwa perlindungan anak dengan Down Syndrome adalah tanggung jawab bersama. Beliau menegaskan bahwa tidak boleh ada satu pun anak dengan disabilitas yang mengalami kekerasan.

“Momentum ini harus kita jadikan penguat komitmen untuk menghapus stigma dan memastikan setiap anak tumbuh dalam lingkungan yang aman serta inklusif,” tegas Menteri Arifah.

Sejalan dengan Ibu Menteri, Program Manager Disability, Equity, dan Inclusion (DEI) Workstream NLR Indonesia, Fahmi Arizal, menyampaikan pentingnya pendekatan yang memberdayakan yang menjadi visi dari NLR Indonesia.

Selain bertujuan melindungi, pendekatan yang memberdayakan menempatkan anak dengan Down Syndrome sebagai individu berpotensi yang dapat tumbuh mandiri dan berkontribusi secara sosial sejauh didukung oleh lingkungan yang inklusif dan ramah bagi semua anak tanpa terkecuali.

Webinar yang diselenggarakan secara daring ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kapasitas pemangku kepentingan mengenai karakteristik serta perlindungan anak dengan Down Syndrome dari kekerasan dan diskriminasi. Lebih dari 700 peserta dari kantor dinas KemenPPPA dan Kemensos seluruh Indonesia, BNPB, BPBD, Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia, dan lainnya.

Dalam webinar ini dihadirkan pula beberapa narasumber yang membedah permasalahan down syndrome dari aspek medis, pertumbuhan fisik dan emosi, interaksi sosial hingga pemberdayaan. Diantarnya Dr. dr. Syarif Rohimi, SpA(K), Dr. Aditya Suryansyah, SpA(K), Eliza Octavianti Rogi (Ketua Umum POTADS) Rocky J. Pesik (Owner Kopi Kamu)
Down syndrome merupakan kelainan genetik yang disebabkan oleh adanya kromosom ekstra, khususnya pada kromosom 21, sehingga kondisi ini sering disebut sebagai Trisomi 21.

Kondisi yang terjadi pada 1 dari 700-1000 kelahiran hidup ini berdampak pada keterlambatan pertumbuhan fisik dan mental anak. Selain ciri fisik yang khas, penyandang Down syndrome memiliki spektrum kelainan organ yang luas, di mana sekitar 40-60% di antaranya mengalami Penyakit Jantung Bawaan (PJB). Meski penyebab pastinya belum diketahui, deteksi dini serta penanganan medis multidisipliner yang terencana sangat krusial untuk menurunkan angka kesakitan dan meningkatkan kualitas hidup serta angka harapan hidup mereka
Beberapa rekomendasi mengemukan dari webinar ini. Pertama, dibutuhkan edukasi dan literasi untuk mengurangi stigma.

Kedua, dibutuhkan peningkatan kapasitas bagi orang tua agar dapat melakukan pengasuhan optimal pada anak dengan down syndrome. Selain itu, layanan kesehatan dan pendidikan didorong agar semakin inklusif dan ramah pada anak dengan disabiklitas. Juga, anak dengan disabilitas seperti down syndrome perlu diberikan ruang partisipatif dimana mereka dapat menyuarakan kebutuhan dan hak mereka dalam kebijakan pembangunan. Dan akhirnya, diperlukan kolaborasi strategis yang melibatkan pemerintah masyarakat, tenaga profesional, dan dunia usaha.

Untuk informasi lanjut, silakan menghubungi :
Fannia Aqilah Mardiana (Raising Awareness & Campaign Assistant NLR Indonesia) – 085722331034
Tentang Yayasan NLR Indonesia
NLR Indonesia adalah yayasan nirlaba yang bekerja untuk menanggulangi kusta dan konsekuensinya di Indonesia sejak 1978. Kami bekerja sama atau bermitra dengan siapa saja yang memiliki nilai, niat dan semangat yang sama dalam kerangka sistem hukum dan budaya di Indonesia untuk mewujudkan Indonesia bebas dari kusta dan konsekuensinya.

NLR Indonesia juga memberikan perhatian khusus untuk pemenuhan hak anak dan kaum muda penyandang disabilitas akibat kusta melalui berbagai bentuk kolaborasi dengan organisasi disabilitas. Yayasan NLR Indonesia merupakan anggota dari NLR International Alliance bersama beberapa organisasi anggota dari 4 negara lainnya, yaitu India, Brazil, Nepal dan Mozambique. Organisasi NLR International Alliance yang berpusat di Belanda ini memiliki visi yang sama, yaitu  Hingga Kita Bebas dari Kusta (Until No Leprosy Remains). www.nlrindonesia.or.id

banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *