Petualang Sahariah Menuju 2024, Dari Balik Bukit Terjal Menjaring Aspirasi Rakyat

politik294 Dilihat

Menit7.com — Senin, 13/3, Jarum jam baru menunjukkan pukul 07.30 Wita. Saat itu suara Handphone (HP) berdering. Dari balik HP terdengar suara seseorang. Rencana reses yang dijadwalkan hari Kamis (16/3/2023) dimajukan hari Rabu, 15/3. ” Jadwal reses dimajukan,” kata Johansyah dari balik HP., Rabu, 15/3.

Johansyah yang menjabat sebagai Ketua I Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Maros menginfokan, bahwa salah seorang anggota DPRD Maros, Sahariah dari Fraksi PKB akan melakukan reses di tiga kecamatan yakni, kecamatan Tompobulu, Moncongloe dan Tanralili. Daerah Pemilihan (Dapil V). “Tolong diliput kunjungan resesnya,” ucap Johansyah.

Pada hari Rabu pagi itu, Menit7.com pun dijemput di dusun Dulang, Kecamatan Tanralili dengan mobil Avanza warna merah. Di dalam mobil sudah ada yang Johansyah, Hakim, dua orang staf Sahariah. Sahariah duduk di jok depan dan drivernya Ulla.

Kami berjumlah delapan orang. Mobil yang ditumpangi pun meninggalkan Dusun Dulang menuju Dusun Bara. Namun, sebelum tiba ke titik kunjungan, Sahariah mampir sejenak di rumahnya. Mohon pamit kepada orangtuanya, H. Nanring salah seorang tokoh masyarakat di Kecamatan Tompobulu.

Reses tersebut dimulai dari Dusun Bara, Desa Bonto Somba, Kecamatan Tompobulu. Ada tiga titik yang akan dikunjungi. Dua titik di Dusun Bara dan satu titik di Dusun Bahagia, Desa Bonto Somba.

Titik pertama, tempat pertemuan dengan warga berlangsung di rumah Damang dan titik kedua di rumah Basuni, serta pada titik terakhir atau titik ketiga di rumah Pg. Ikka, Dusun Bahagia, Desa Bonto Manurung.

Didalam mobil kami berdiskusi tentang lokasi yang akan dikunjungi. Sahariah sendiri banyak bercerita tentang Geografi wilayah Dapil V. Di sepanjang jalan dari Dulang – Mengembang ke Bara, kami menyaksikan pepohonan nan hijau. Tumbuh subur di atas bukit – bukit berbatu yang mulai gundul akibat tercabik-cabik dengan alat berat. Seperti Excavator. Buldozer.

Mereka yang berbuat tidak akan pernah berfikir dampak yang ditimbulkan akibat penggundulan bukit. Mereka hanya berfikir mendapat keuntungan dari apa yang mereka perbuat.

Dan, menjadikan lahan tambang yang tidak berizin. Tidak peduli dengan i suara mesin Excavator dan runtuhan tanah timbunan dan batu-batu gajah yang sewaktu-waktu mengancam keselamatan jiwa warga yang ada di sekitarnya.

Belum lagi jalan aspal berlumpur akibat tumpahan tanah timbunan dari mobil truk yang memuat tanah timbunan. Kondisi seperti ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Seperti diduga ada pembiaran. Pemerintah setempat pun tutup mata dan telinga.

Tahun 1991, kita masih sempat menyaksikan indahnya alam. Pepohonan dan bukit – bukit di Tompobulu, Moncongloe dan Tanralili. Namun, saat ini di sepanjang jalan menuju Tompobulu, Moncongloe dan Tanralili kita hanya menyaksikan kerusakan lingkungan hidup. (Irianto Amama/bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *