Petualang Sahariah Menuju 2024 (Part 2 )
Dari Balik Bukit Terjal Menjaring Aspirasi Rakyat

politik290 Dilihat

Menit7.com — Reses Sahariah ke Dusun Bara, Desa Bonto Manurung, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros bertujuan untuk menampung aspirasi dan bertatap muka langsung dengan warga masyarakat untuk dibahas pada masa sidang 2 tahun 2022-2023.

Sebagai anggota Dewan dari Fraksi PKB, Sahariah tidak ingin hanya menerima laporan Asal Bapak/Ibu Senang (ABIS). Tetapi ingin merasakan dan menyaksikan langsung betapa keras masalah kehidupan warga masyarakat Dusun Bara dan sekitarnya yang jauh dan terisolir dari keramaian kota.

Johansyah yang setia mendampingi setiap anggota DPRD Kab. Maros yang melakukan reses, mengajak kepada seluruh warga masyarakat agar memilih wakil rakyat yang peduli dengan masyarakat. Seperti Sahariah, seorang perempuan tangguh. Tanpa lelah berpetualang melalui bukit terjal menjaring aspirasi rakyat . “Makanya, pilihki Calon Legislatif (Caleg) atau anggota Dewan yang betul-betul peduli dengan masyarakat. Seperti Sahariah yang selalu hadir ditengah-tengah kita. Memperjuangkan aspirasi masyarakat. Apalagi Sahariah asli orang sini,” pinta Johansyah.

Johansyah menggambarkan, transfortasi yang memprihatikan. Jalan berlumpur. Pecahan batu gajah yang tidak beraturan berada di badan jalan yang setiap saat mengancam keselamatan pengendara motor. Dua akses jalan ini harus menjadi skala prioritas utama untuk diperjuangkan.

Selain itu, rumah ibadah pun (masjid), tidak ada dan gedung sekolah tempat dimana anak-anak mengecap pendidikan. Anak-anak Bara hanya dapat belajar di kolong rumah penduduk. Tata kelola kehidupan di Dusun Bara boleh dikatakan masih sangat tertinggal,” beber Johansyah.

Untuk mencapai Dusun Bara, kita harus persiapkan fisik. Stamina yang kuat. Karena harus melewati jalan terjal. Mendaki dan menukik serta penuh dengan bebatuan sebesar bantal guling. Dan, di kanan – kiri nampak jurang. Dengan Kondisi jalan seperti itu, pengendara motor perlu ekstra hati-hati melewati jalan terjal sepanjang sekitar 10 Kilometer dan hanya bisa dilewati kendaraan roda dua dengan jarak tempuh antara 60 hingga 90 menit.

Dari tiga titik tempat yang dikunjungi, seluruh warga mengusulkan perbaikan jalan, jembatan, mushallah dan gedung sekolah dan jalan tani. Namun, yang mendesak adalah jalanan dan pembangunan jembatan gantung Bara ke Tombolo.

Menurut Kepala Dusun Bara, Darman, warga Bara sangat membutuhkan perbaikan jalanan dan jembatan. ” Kami berharap kepada pemerintah daerah maupun pusat melalui Ibu Dewan Sahariah, agar memperjuangkan permintaan kami untuk perbaikan jalanan dan jembatan,” kata Darman.

Darman memaparkan keinginan warga lantaran dua akses jalan tersebut sangat dibutuhkan. Karena dapat menghubungkan antar dusun dengan dusun yang lain yang pada gilirannya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Secara geografis, Dusun Bara merupakan daerah agraris. Diapit dua bukit antara batas bukit Kecamatan Tompobulu Kabupaten Maros dan Malino, Gowa. Masyarakatnya hidup dari hasil bercocok tanam. Menanam jagung kuning dan kopi. ” Ternyata kopi robusta dan Arabika dari Bara tergolong kualitas terbaik setelah Toraja,” ungkap Darman.

Darman mengatakan, setelah panen jagung itu diangkut dengan kendaraan roda dua dibawa oleh petani untuk dijual kepada pengumpul dengan harga 3000/kg. ” Kami berharap kepada pemerintah daerah dan pusat agar memperhatikan nasib masyarakat marginal untuk dapat hidup sejahtera,” harapan Darman. (Anto/ Selesai).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *