banner 728x250

Guru Honorer dan Penjaga Sekolah di Maros Menjerit, Gaji Dipotong Hingga 50 Persen

  • Bagikan
banner 468x60

Maros, Menit7.com || Sejumlah guru honorer dan Penjaga Sekolah ( bujang sekolah ) di Kabupaten Maros menjerit. Pasalnya, mengalami pemotongan gaji yang cukup signifikan, sehingga menambah beban hidup mereka.

Sebutlah, ibu berinisial ST, tenaga honorer yang telah puluhan tahun mengabdi di salah satu SMP di Maros, mengungkapkan keluh kesahnya. Dengan tanggungan empat anak, ia kini hanya bisa menggantungkan hidup dari honor sekolah yang justru semakin berkurang.

Example 300x600

“Dulu saya digaji Rp1 juta per bulan, tapi sekarang ini hanya menerima Rp500 ribu,” ujarnya dengan nada sedih..

Nasib serupa juga dialami sang suami yang bekerja sebagai penjaga sekolah (bujang sekolah) di SMP Gaji yang sebelumnya Rp750 ribu kini hanya  Rp250 ribu.

Kami berharap pemerintah daerah dan pusat bisa mendengar jeritan hati kami, agar hidup kami bisa lebih layak,” tambah ST.

Menanggapi hal tersebut, Plt, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Maros Andi Wandi Bangsawan Putra Patabai, S.STP., MM yang ditemui di ruang kerjanya, Kamis, 4/9/2025 menjelaskan, bahwa pemotongan gaji honorer tersebut merupakan dampak dari Surat Edaran Kemendikdasmen Nomor 9 Tahun 2025.

Dalam aturan itu, disebutkan bahwa pembiayaan honor bagi guru, pendidik, dan tenaga kependidikan non-ASN hanya boleh menggunakan maksimal 20% dari anggaran satuan pendidikan negeri, serta 40% bagi satuan pendidikan yang diselenggarakan masyarakat.

Ketentuan tersebut berlaku dalam pelaksanaan BOP PAUD Reguler, BOS Reguler, dan BOP Kesetaraan Reguler Tahun Anggaran 2025, yang dihitung dari 50% pagu alokasi dalam satu tahun anggaran.

Ketua DPD Aliansi Pemantau Kinerja Aparatur Negara (APKAN) RI Kabupaten Maros, Irianto Amama menyoroti nasib yang menimpa para “pahlawan tanpa tanda jasa ” di Kabupaten Maros. Anto Amama menilai, pemotongan gaji honorer tanpa solusi lain berpotensi menurunkan semangat mengajar dan berdampak pada kualitas pendidikan.
Menurutnya, pemerintah daerah dan pemerhati pendidikan dan dewan pendidikan harus duduk bersama mencarikan solusi agar para guru honorer bisa bekerja dengan tenang.

“Pendidikan bukan hanya soal bangunan sekolah atau fasilitas. Guru adalah ujung tombak. Kalau kesejahteraannya tidak terjamin, tentu berpengaruh pada kualitas pembelajaran,” ujarnya.

Hingga kini, para tenaga honorer dan penjaga sekolah di Maros masih menunggu langkah nyata pemerintah untuk memberikan kebijakan yang lebih berpihak kepada mereka.(an)

 

banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *