banner 728x250

Tim Peneliti MoRA UIN Makassar Survei Lapangan di Kawasan Adat Kaluppini Enrekang

  • Bagikan
Masyarakat adat Kaluppini Enrekang saat melakukan ritual adat (dok. Istimewa)
banner 468x60

Enrekang, Menit7.com – Tim peneliti Program Pendanaan Riset Indonesia Bangkit MoRA The Air Funds UIN Alauddin Makassar melakukan survei lapangan di kawasan adat Kaluppini Kabupaten Enrekang. Penelitian ini menyoroti bagaimana nilai spiritual, sosial, dan alam menyatu dalam harmoni kehidupan masyarakat.

Survei lapangan tersebut digelar Rabu-Senin (1-6/4). Penelitian ini bertajuk ‘Manifestasi Trilogi Kerukunan dalam Sistem Ruang dan Relasi Sosial Masyarakat Adat Kaluppini’.

Example 300x600

“Kami menemukan bahwa tata ruang di Kaluppini tidak hanya sekadar pembagian wilayah fisik, tetapi merupakan manifestasi dari nilai-nilai luhur. Ada ruang yang disakralkan untuk ritual, ruang sosial untuk bermasyarakat, dan ruang produksi yang dikelola dengan aturan adat ketat,” ujar ketua tim peneliti MoRA UIN Alauddin Makassar, Zulkarnain, Sabtu (4/4/2025).

Zulkarnain mengungkapkan trilogi kerukunan dalam penelitian ini mencakup hubungan manusia dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan alam lingkungan. Ketiga aspek itu dinilai menjadi fondasi utama masyarakat Kaluppini dalam mempertahankan eksistensinya sebagai komunitas adat di Sulawesi Selatan.

“Dalam observasi lapangan, tim peneliti mencatat bahwa relasi sosial di Kaluppini sangat dipengaruhi oleh struktur kepemimpinan adat yang kuat. Hal ini menciptakan stabilitas komunal dan kohesi sosial yang tinggi,” ujarnya.

Di sisi lain, Zulkarnain menyebut penelitian ini turut mendokumentasikan bagaimana masyarakat adat Kaluppini membangun sistem ruang terpadu sebagai pusat ritual adat. Pembagian peran dalam upacara seperti Pangewaran dan Maccera To Manurung menjadi bukti nyata implementasi trilogi kerukunan secara kolektif.

Dia menambahkan ritual adat di Kaluppini merefleksikan keseimbangan kosmologi antara Tuhan, manusia, dan alam. Aturan adat mencakup penggunaan lahan hingga pemanfaatan hasil bumi, termasuk pantangan di kawasan hutan adat (ongko) yang menjadi bentuk nyata ekoteologi.

“Hasil dari kajian ini diharapkan dapat menjadi rujukan ilmiah dalam pengembangan kebijakan berbasis kearifan lokal. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk memperkuat posisi masyarakat adat Kaluppini dalam mempertahankan hak-hak wilayah dan identitas budayanya di tengah tantangan globalisasi” pungkasnya.

banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *